Minggu, 11 Januari 2009

SBY Kecewa Israel tak Patuhi Resolusi DK PBB

Presiden SBY dan PM Suriah Mohammad Naji Otri memberi keterangan pers bersama, usai pertemuan bilateral, di Istana Merdeka, Senin (12/1) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY dan PM Suriah Mohammad Naji Otri memberi keterangan pers bersama, usai pertemuan bilateral, di Istana Merdeka, Senin (12/1) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
Jakarta: Pemerintah Indonesia sangat kecewa atas tidak dipatuhinya resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) oleh Israel. Pasukan Israel tidak menghentikan serangan militernya, bahkan terus menggempur wilayah Gaza, Palestina, sehingga tragedi kemanusian terus terjadi hingga sekarang ini.

Hal ini disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan persnya bersama PM Republik Arab Suriah Mohammad Naji Otri, usai melakukan pertemuan bilateral, Senin (12/1) siang, di Istana Merdeka Jakarta.

”Menyangkut krisis Gaza di Palestina, sikap PM Suriah dan pemerintah Indonesia pada prinsipnya sama. Solusi paling riil sekarang ini adalah segera dipatuhinya resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1860 tentang dihentikannya serangan-serangan militer Israel, kemudian diberikan bantuan kemanusian yang nyata pula. Dengan demikian stabilitas dan keamanan di Gaza, Palestina, bisa dipulihkan,” Presiden SBY menegaskan.

Dalam pertemuan bilateral dengan Suriah, ujar SBY, juga dijelaskan tentang langkah-langkah yang diambil Indonesia saat ini, baik langkah diplomasi maupun bantuan kemanusian. ”Indonesia kecewa karena Resolisi DK PBB nomor 1860 tidak dipatuhi sehingga tragedi kemanusiaan terus terjadi di jalur Gaza Palestina,” kata SBY.

Selain itu, disampaikan pula pemikiran dan pandangan Indonesia, yakni, pertama, kalau memang resolusi ini tidak dijalankan dengan baik maka diperlukan resolusi yang lebih keras dari DK PBB. Resolusi itu harus mengikat dan betul-betul bisa menghentikan aksi-aksi militer Israel, kemudian dilanjutkan dengan gencatan senjata. ”Indonesia juga berpendapat, apabila resolusi ini juga tidak menghentikan kekerasan, tidak bisa mengakhiri krisis --sebagaimana saya usulkan kepada Sekjen PBB dan Presiden DK PBB waktu itu-- diperlukan emergency special session dari Majleis Umum yang bekerja paralel dengan apa yang dilaksanakan DK PBB. Tujuannya satu, betul-betul krisis diakhiri di Gaza sekarang ini,” Presiden menandaskan.

Sementara itu PM Suriah Mohammad Naji Otri mengatakan, sangat menghargai sikap pemerintah dan rakyat Indonesia yang selalu mendukung berbagai masalah yang dihadapi oleh bangsa Arab di forum-forum internasional. ”Apa yang terjadi saat ini di Gaza Palestina berlangsung serangan dari agresor yang terus-menerus melakukan pembantaian. Kebijakan mereka adalah melakukan ekspansi, penindasan, dan pembunuhan serta merugikan bangsa-bangsa Arab yang ada di kawasan,” kata Otri.

Suriah, lanjut Otri, selalu menginginkan realisasi perdamaian dan keamanan. Perdamaian yang adil dan menyeluruh, perdamaian yang berarti juga mengembalikan hak-hak dan wilayah Palestina kepada pemiliknya, dan menarik mundur pasukan Israel hingga perbatasan yang sebelum tahun 1967. (win)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar